Milenial di Hadapan Absurditas

Absurditas

“You will never be happy if you continue to search for what happiness consists of. You will never live if you are looking for the meaning of life.” – Albert Camus

Sejak era kuno – sekitar ribuan tahun yang lalu, atau bahkan lebih lama lagi – spesies kita yang dengan congkak kita namai Homo Sapiens, “Manusia Bijak”, mulai mempertanyakan apa arti hidup. Bagaimana seharusnya menjalani kehidupan? Apa yang membuat hidup bahagia? Bagaimana peran takdir? Apa peran uang? Apakah menjalani hidup adalah persoalan pola pikir atau tentang mengejar harapan hidup yang konkret? Bagaimana seorang individu berkontribusi pada dunia yang sangat kompleks ini?

Setiap generasi mengajukan pertanyaan ini dengan caranya masing-masing, tidak terkecuali generasi milenial. Jumlah kaum milenial yang menguasai demografi penduduk Indonesia merupakan pedang bermata dua yang perlu disikapi dengan benar. Sehingga tidak salah jika kita menyebut bahwa penanganan kaum milenial adalah kunci untuk menentukan masa depan Indonesia.

Kecenderungan para milenial

Dalam laporan yang dirilis Gallup di tahun 2016 berjudul: “How Millenials Want to Work and Live”, salah satu karakteristik utama pegawai milenial adalah mereka percaya bahwa kehidupan dan pekerjaan harus memiliki makna. Sebanyak 87% dari para milenial mengatakan bahwa pertumbuhan di tempat kerja dan karir sangat penting dalam pekerjaan, dan mereka ingin memiliki tujuan dan merasa menjadi bagian penting dalam pekerjaan.

Sebagai salah satu kaum milenial, saya membenarkan pernyataan tersebut. Namun, karakteristik tersebut juga meninggalkan sejumlah persoalan. Milenial punya tendensi untuk tidak terikat, ingin cepat mendapatkan feedback, dan tingkat kebosanan yang lebih tinggi. Setelah bekerja selama beberapa waktu dan merasa tidak berkembang atau tidak menemukan makna yang diharapkan, kebanyakan memilih mengundurkan diri.

Tantangan yang dihadapi

Faktanya, lingkungan kerja tidak selalu mampu menawarkan hal demikian. Bagaimana mencari makna di lingkungan yang sulit memberi ruang untuk berkembang? Lingkungan kerja yang sangat tidak fleksibel? Tempat kerja yang tidak memberikan kita kendali apapun? Lingkungan yang mewajibkan kita menghabiskan waktu untuk mempelajari keterampilan yang sama sekali tidak ingin kita kapitalisasi dalam jangka panjang?

Bagaimana memberi makna pada budaya kerja yang cenderung otoriter dibanding egaliter? Budaya kerja yang sangat mekanik sehingga kita sering kali hanya dipandang sebagai objek, bukan subjek? Budaya kerja yang bahkan membuat kita tidak lagi mampu menghasilkan reasoning yang sederhana dan to the point karena ada basa basi kultural, ada feodalisme, dan ada sopan santun yang palsu?

Bagimana memberi makna pada pekerjaan yang hanya bersifat klerikal dan tidak berbasis outcome? Pekerjaan yang dikerjakan hanya karena harus dikerjakan, bukan karena memiliki manfaat yang terukur? Pekerjaan “by order” yang bahkan tidak kita pahami alasan dan tujuan akhirnya? Bagaimana mungkin memberi makna pada pekerjaan yang bahkan kita ragukan sendiri.

Bagaimana menyikapi realitas pahit

Menyikapi persoalan tersebut, di sekitar saya saja, saya pikir data ini cukup valid, setidaknya 3 dari 10 pegawai milenial sedang menyiapkan diri untuk resign. Persoalan di atas memang perlu mendapat perhatian, namun ada satu hal yang luput dari pertimbangan mereka – dan mungkin juga saya. Apapun titik tolak filosofis yang kita pilih hari ini, dengan cara apapun kita melihatnya, kesalahan dan kebobrokan adalah realitas yang paling nyata dihadapkan di depan mata kita. Meski ada sekian banyak alasan demi alasan untuk membenarkannya, alasan-alasan itu hanya mengarahkan kita pada spekulasi tentang satu prinsip yang menipu. Daripada sibuk mencari makna, lebih baik buang saja persepsi kekanak-kanakan kita tentang dunia dan mulai menyadari bahwa semuanya memang sangat buruk.

“Semua kebenaran itu bengkok,” itu yang saya pelajari dari Friedrich Nietzsche. Segala lini kehidupan mempertontonkan itu. Hanya ketika menelaah kembali, kita meluruskan narasinya, memberikan pola-pola dan makna. Namun, lebih sering kita hanya jatuh ke dalam purpose washing – memberi makna dan nilai pada pekerjaan atau tujuan organisasi, yang pada praktiknya jarang dilakukan, bahkan dipikirkan.

Ilusi pencarian makna

Pencarian makna itu ilusif, dan sangat bias. Kita tidak akan pernah menemukan jawaban yang memuaskan dalam pencarian makna karena kita terus mencari satu prinsip tunggal, pedoman tunggal, ataupun peraturan tunggal. Sementara setiap tantangan dalam hidup tidak pernah dapat diselesaikan lewat satu jawaban tunggal semacam itu. Kita membutuhkan perangkat mental dengan beragam alat untuk memahami dunia – dan menjalani kehidupan.

Ilmu pengetahuan modern tidak menemukan jawaban untuk pertanyaan “bagaimana memaknai kehidupan ataupun pekerjaan”. Yang berhasil diketahui adalah, selama masih ada materi dan energi yang cukup, hidup akan terus berkembang tanpa tujuan. Tidak ada tujuan utuh yang jelas. Dunia ini pada dasarnya tidak bermakna. Kita tidak lebih dari sosok Sisyphus yang dikutuk selamanya mengulangi tugas sia-sia mendorong batu karang ke puncak gunung yang pada akhirnya akan jatuh kembali. Inilah yang oleh Albert Camus disebut sebagai absurditas. Percuma memaksakan Sisyphus untuk meyakini bahwa kerjaannya sangat bermakna.

Dunia ini tidak dirancang untuk benar, tidak dirancang untuk baik, tetapi dirancang untuk stabil. Segala macam sistem – hukum, uang, birokrasi, pajak, bahkan moralitas – dibangun untuk menciptakan stabilitas. Pada akhirnya, kita hanya perlu melihat lebih luas bahwa semua orang sudah punya porsinya masing-masing dalam bekerja yang saling menopang agar dunia tetap berjalan stabil – dalam sebuah tatanan. Sekali lagi, dalam sebuah tatanan. Esensi dari pekerjaan tidak harus dilekatkan pada makna, melainkan pada pekerjaan itu sendiri. Ya, Kerjakan saja. Karena tanpa orang-orang yang bekerja rutin, tatanan dunia tidak akan terbentuk, cenderung chaos, dan saling egois. Sehingga kita hanya akan menghabiskan energi untuk memikirkan bagaimana bisa survive di tengah milyaran manusia yang saling memuja hukum rimba.

Milenial di hadapan absurditas

Penalaran absurditas – menjalani hidup tanpa makna – mungkin terdengar aneh di telinga masyarakat modern, terlebih bagi generasi milenial. Tetapi bukankah itu lebih baik daripada menjadi kaum milenial yang memaksakan pencarian makna dan akhirnya hanya berkontribusi pada peningkatan angka turnover pegawai di berbagai sektor? Lagipula, melihat kehidupan dan pekerjaan dengan cara seperti itu lebih memerdekakan. Tidak ada momen sepele, momen tidak penting. Setiap momen, yang sangat tidak relevan sekalipun, memiliki bobot yang sama dengan momen-momen lainnya. Semua aksi sama besarnya dan sama kecilnya.

Mentalitas “kerjakan saja” memberi kita dorongan untuk jadi berani dan tidak masalah ketika salah, kalah, jatuh, luka, karena pada akhirnya juga semua akan sembuh. Bekerjalah. Jangan menunggu alasan yang baik untuk bekerja. Bekerja saja, seolah tiada seorang pun yang menyaksikan. Ketika kerjaanmu berjalan baik, bekerjalah. Ketika kerjaanmu terasa tidak bermakna, tetaplah bekerja. Dan ketika anda menghadapi berbagai situasi yang bertentangan dengan nilai-nilai anda, ucapkan saja, “Saya (hanya) sedang bekerja.”

“Lambat laun, hidup mengubah kita semua menjadi filsuf,” kata pemikir Prancis, Maurice Riseling.

SHARE

1 thought on “Milenial di Hadapan Absurditas”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *